Perempuan Moderat
November 24, 2017
Di
era digital saat ini kita pasti sudah
sering dihadapkan dengan berbagai jenis pergerakan, ya kan? Apalagi pergerakan
perempuan, sudah bukan zamannya lagi perempuan itu hanya menjadi bagian di
balik layar. Sepertinya semua orang sudah sadar betul akan hal itu. Sekarang
ini apa-apa harus serba setara, begitu kan katanya?
Menjadi
perempuan, berarti memiliki hak untuk menuntut ilmu, mendapat pekerjaan, bahkan
turut duduk di pemerintahan. Pokoknya sudah bukan saatnya lagi perempuan
dikekang di dalam rumah, duduk dan menunggu seseorang menjemputnya untuk
menjadi istri lalu tidak lama kemudian menjalankan peran tambahan sebagai ibu.
Menjadi perempuan harus berani berani buka suara.
Sudah bukan saatnya perempuan diam saja ketika hak-haknya tidak terpenuhi atau
malah cenderung tertindas. Kalau ada yang sekiranya mengganjal di hati,
utarakan! Begitu, kan?
Semakin kesini senang sekali rasanya saya melihat
kemajuan kaum perempuan. Siapa coba yang tidak berang jikalau perempuan selalu
dipandang sebelah mata? Namun sangat disayangkan isu feminisme ini sering kali
salah arah. Mentang-mentang zaman sudah maju, ia lalu lupa dengan kodratnya
sebagai manusia. Manusia ya, m a n u s i a.
Saya sering membaca berbagai tulisan yang menyatakan
bahwa menjadi perempuan bukan berarti menjadi ahli di dapur. Bagus juga idenya,
ya? Memang benar, memasak itu bukan selamanya menjadi tugas seorang perempuan.
Tapi kemudian statement tersebut digunakan sebagai pembelaan. Saat ada orang
yang berkomentar tentang ketidakmampuanmu untuk memasak, tinggal bilang saja, “Memasak
kan bukan tugas perempuan saja!”
“Sekarang kan sudah ada laundry dimana-mana, buat apa susah payah merendam lalu mengucek pakaian kotor?” begitu kata
perempuan urban yang hidup di era modern. Waktu yang ada bisa diisi dengan
bekerja, sekolah, atau hal bermanfaat lain daripada harus berlama-lama mencuci
pakaian. Nanti sampai tumbuh dewasa dan berumahtangga pun tidak perlu khawatir,
tinggal kita masukkan saja pakaian-pakaian itu ke laundry terdekat.
Dua
contoh tadi adalah hal yang paling sering saya temui. Sebenarnya tidak salah
kok memanfaatkan kehadiran laundry atau pun tidak mempunyai skill untuk memasak. Tapi asal tahu
saja, memasak dan mencuci memang bukan hanya menjadi tugas perempuan saja,
melainkan perempuan DAN laki-laki. Itu adalah skill yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup. Jadikan lah
statement “memasak dan mencuci bukan hanya tugas perempuan” untuk mendukung
kesetaraan. Untuk membangkitkan semangat kita dalam belajar berkembang dan
hidup mandiri. Untuk menghimbau para laki-laki supaya mau menengok ke dapur dan
ke belakang rumah.
Saya
suka sekali sekarang ini sudah banyak perempuan pintar. Apalagi bab buka suara,
wah keren sekali melihat para perempuan ini menuangkan isi kepala. Bisa
dibilang saya ini sangat mendukung kemajuan para perempuan, terutama dalam
pendidikan. Nah, kenapa kita tidak memanfaatkan akal sehat ini untuk berfikir
lebih kritis dan menjadi perempuan moderat? Mengapa statement seperti di atas tidak kita jadikan pemantik untuk menjadi
manusia yang lebih baik?
Sekali
lagi, saya tidak berusaha menyalahkan orang yang tidak bisa memasak atau yang
sehari-harinya menggunakan jasa laundry.
Saya tahu betul setiap orang punya pertimbangan untuk menentukan pilihan. Pada
intinya yang ingin saya sampaikan adalah jangan terjebak dengan kata-kata yang
sesungguhnya disampaikan untuk memotivasi kita. Kemampuan bertahan hidup tentu
semua orang harus menguasainya, contohnya ialah memasak dan mencuci tadi.
Sudahi daja lah sedikit-sedikit mengeluh dan bersembunyi dibalik pernyataan “itu
kan bukan tugas perempuan saja”. Paham, kan? Paham dong ya, kan zaman sekarang
orang sudah pintar-pintar, haha.
0 comments